Megadream99 – Hasil imbang 0-0 Timnas Indonesia kontra Malaysia pada matchday kedua Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 meninggalkan kekecewaan. Namun, pengamat sepak bola Gusnul Yakin menilai para pemain Garuda tidak layak menjadi sasaran kesalahan setelah berjuang dengan 10 pemain.
Timnas Indonesia harus bermain dengan kekuatan pincang sejak Thom Haye menerima kartu merah pada menit ke-37. Kondisi tersebut membuat keseimbangan permainan Garuda terganggu dan aliran serangan menjadi lebih sulit berkembang.
John Herdman kemudian memasukkan Ivar Jenner ketika Indonesia mulai lebih banyak bertahan menghadapi tekanan Malaysia. Beruntung, Maarten Paes, Elkan Baggott, dan Justin Hubner tampil solid untuk menjaga gawang Indonesia tetap tidak kebobolan.
Gusnul menilai situasi tersebut seharusnya menjadi pertimbangan sebelum mengkritik pemain. Menurutnya, tanggung jawab utama atas permainan dan hasil pertandingan berada di tangan pelatih sebagai perancang taktik serta strategi.
Gusnul Yakin Bela Pemain Timnas Indonesia

Indonesia harus bertahan dengan 10 pemain selama lebih dari 50 menit setelah kartu merah Thom Haye. Malaysia pun mendapat lebih banyak kesempatan menguasai permainan, tetapi lini belakang Garuda mampu mempertahankan skor hingga pertandingan berakhir.
“Tidak mudah bermain dengan sepuluh orang. Tidak etis jika pemain disalahkan, karena mereka bekerja keras agar tidak kalah. Jika ingin menyalahkan, John Herdman yang harus menanggung semuanya,” kata Gusnul Yakin.
Menurut Gusnul, pemain pada dasarnya menjalankan instruksi yang diberikan pelatih. Karena itu, kualitas permainan tim tidak bisa dilepaskan dari taktik dan game plan yang telah disiapkan sebelum pertandingan.
“Pemain itu ibarat pion di permainan catur. Kemana dia mau bergerak hanya menjalankan taktik yang sudah dirancang pelatih. Dari pertandingan lawan Malaysia, saya nilai John Herdman yang tak punya taktik bagus. Dia juga belum bisa melihat potensi pemain Timnas Indonesia,” jelasnya.
Soroti Taktik John Herdman yang Dinilai Monoton

Gusnul juga menyoroti pola permainan Indonesia selama FIFA ASEAN Cup 2026. Ia menilai skema yang diterapkan Herdman belum menunjukkan perkembangan positif dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya.
“Pola serangan gitu-gitu saja, sistem pertahanan juga tak jelas. Itu bukti John Herdman tidak punya taktik bagaimana cara melepaskan diri dari tekanan lawan. Wajar jika pemain secara insting berusaha gawang tidak kebobolan dengan asal buang bola ke depan,” kupasnya.
Mantan pelatih Arema itu kemudian membandingkan situasi tersebut dengan pendekatan Shin Tae-yong saat Indonesia mengalahkan Arab Saudi 2-0 pada putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Menurut Gusnul, ketika itu Indonesia juga mendapat tekanan, tetapi memiliki skema serangan balik yang lebih terstruktur.
“Tengok ke belakang pada era Shin Tae-yong, ketika menang 2-0 lawan Arab Saudi. Saat itu pertahanan Timnas Indonesia juga ditekan, tapi kita bisa lepas dari tekanan dan melakukan serangan balik yang sudah terencana. Dua gol Marselino Ferdinan dulu bukan kebetulan atau untung-untungan, tapi sudah terpola,” paparnya.