Kiper Real Madrid, Thibaut Courtois (c) Real Madrid CF
Megadream99 – Real Madrid berhasil mengalahkan AS Roma dengan skor 4-3 dalam pertandingan Liga Champions yang berlangsung dramatis. Namun, kemenangan tersebut tidak sepenuhnya menutupi masalah taktik yang terlihat sepanjang pertandingan, terutama ketika menghadapi tekanan tinggi dari lawan.
Sebelum pergantian pemain memberikan dampak positif, Real Madrid kesulitan mengembangkan permainan. Roma mampu menekan secara efektif, membuat para pemain Los Blancos kesulitan membangun serangan dari lini belakang.
Dalam situasi tersebut, Thibaut Courtois justru mendapat tanggung jawab yang tidak biasa. Kiper asal Belgia itu berkali-kali harus melepaskan umpan panjang ke ruang kosong sebagai jalan keluar dari tekanan, padahal Real Madrid memiliki sejumlah pemain yang mampu membantu progresi bola.
Courtois Jadi Andalan Umpan Panjang
Strategi membangun serangan Real Madrid terlihat terlalu bergantung pada umpan panjang Courtois. Ketika Roma menerapkan tekanan tinggi, lini tengah Los Blancos gagal menyediakan cukup banyak opsi operan untuk membantu kiper memulai serangan secara lebih terstruktur.
Akibatnya, Courtois harus mengirimkan bola langsung ke area depan dengan harapan rekan setimnya mampu memenangi duel atau menjangkau ruang kosong. Statistik pertandingan menunjukkan ia hanya menyelesaikan tiga umpan panjang dari lebih dari 10 percobaan.
Pendekatan tersebut membuat Real Madrid kesulitan mempertahankan penguasaan bola dan melewati tekanan lawan. Strategi itu juga tidak memaksimalkan kemampuan teknis para pemain yang seharusnya bisa membantu tim mengalirkan bola dari belakang.
Mourinho Abaikan Sejumlah Pengatur Serangan
Situasi tersebut semakin mengundang pertanyaan karena Real Madrid memiliki beberapa pemain dengan kemampuan progresi bola yang baik. Trent Alexander-Arnold, Arda Guler, dan Bernardo Silva adalah opsi yang bisa membantu tim keluar dari tekanan melalui operan dan pergerakan.
Alexander-Arnold, misalnya, terbiasa berperan penting dalam membangun serangan sejak masih membela Liverpool. Kemampuannya mengirimkan umpan progresif dapat memberikan alternatif selain mengandalkan bola panjang dari Courtois.
Di lini tengah, Thiago Pitarch juga dinilai memiliki keberanian untuk meminta bola dan mencari ruang di bawah tekanan. Eduardo Camavinga turut menawarkan kemampuan membawa bola yang bisa membantu Real Madrid melewati pressing lawan.
Sebaliknya, kombinasi Aurelien Tchouameni dan Federico Valverde dinilai belum mampu menyediakan dukungan yang cukup dalam situasi tersebut. Ketika gelandang tidak aktif membuka jalur operan, beban untuk memulai serangan semakin besar bagi Courtois.
Real Madrid Harus Memperbaiki Build-up
Kemenangan atas Roma memperlihatkan bahwa kualitas individu dan pergantian pemain dapat mengubah jalannya pertandingan. Namun, Real Madrid tidak bisa terus mengandalkan kebangkitan dramatis untuk menutupi kelemahan dalam strategi permainan.
Mourinho perlu mengevaluasi pendekatan build-up tim, terutama ketika menghadapi lawan yang agresif melakukan pressing. Pemain di lini tengah harus lebih aktif menawarkan diri sebagai opsi operan, sementara bek sayap perlu membantu menciptakan jalur progresi bola.
Courtois seharusnya menjadi bagian dari proses membangun serangan, bukan menjadi tumpuan utama untuk melewati tekanan lawan melalui umpan panjang. Dengan memaksimalkan kemampuan pemain yang tersedia, Real Madrid berpeluang tampil lebih terorganisasi dan mengurangi risiko kehilangan bola.
Jika masalah tersebut tidak segera diperbaiki, kemenangan seperti saat melawan Roma bisa menjadi pengecualian, bukan gambaran konsistensi permainan yang dibutuhkan Real Madrid.
Sumber: The Real Champs